banner 728x250

Sorotan Tajam! Keraton Memprihatinkan, Disparbud Balut Dinilai Fokus Seremonial

CARDINALNews.co.id
banner 120x600
banner 468x60

Banggai Laut, CARDINALNews.co.id — Selasa, (19/11/2025). Di tengah gemerlapnya penyelenggaraan Festival Malabot Tumbe yang menyedot anggaran besar, kondisi Keraton Kerajaan Banggai sebagai jantung dari ritual adat tersebut justru menampilkan wajah yang memprihatinkan. Kritik keras datang dari tokoh setempat yang menyesalkan ketidakpedulian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banggai Laut terhadap pemeliharaan situs budaya yang menjadi fondasi utama festival.

Narasumber, Muhlis, dengan tegas menyoroti kontradiksi antara kemegahan festival dengan realitas kondisi Keraton.

“Paling tidak keratonnya perlu diperhatikan dari segi bangunan. Bukan hanya dibiarkan tak ada anggaran untuk pengecatan atau rehabilitasi perbaikan keraton,” ujar Muhlis dengan nada kecewa.

Baca Juga:  Disparbud Balut, Sukses Gelar Festival Tumbe 2025 The Greatest of Tumbe.

Ia menyayangkan alokasi anggaran yang tampak timpang, hanya berfokus pada aspek seremonial Malabot Tumbe yang digelar secara besar-besaran, sementara inti dari perhelatan itu sendiri, yakni Keraton sebagai simbol adat dan sejarah, dibiarkan terabaikan.

“Kita seharusnya, malu menyambut para tamu dengan kondisi keraton seperti ini,” lanjut Muhlis. “Tanpa Keraton dan adatnya, tak akan ada Festival Malabot Tumbe.”

Festival Malabot Tumbe merupakan prosesi adat sakral penjemputan telur Burung Maleo yang sarat akan nilai persaudaraan dan tradisi Kerajaan Banggai. Kehadiran Keraton bukan hanya sekadar latar belakang, melainkan elemen vital yang menegaskan otentisitas dan kesakralan ritual.

Baca Juga:  Kejaksaan Negeri, Morowali Utara: "Peringati Hakordia 2025"

Desakan Anggaran Perbaikan

Muhlis mendesak agar Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banggai Laut, segera mengambil langkah konkret. Ia menuntut agar anggaran daerah yang cukup dialokasikan untuk perbaikan dan perawatan Keraton secara menyeluruh, tidak hanya saat mendekati acara seremonial.

“Harapan kami, Pemerintah Daerah oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan harusnya mempersiapkan atau menggelontorkan anggaran untuk perbaikan keraton, menggunakan dana daerah atau sumber pembiayaan tidak mengikat lainnya. Jangan sampai situs sejarah kita hancur hanya karena minimnya kepedulian,” tegasnya.

Kondisi Keraton Banggai saat ini menjadi cerminan nyata bahwa fokus pelestarian budaya daerah di Banggai Laut masih sebatas kulit luar (seremonial) dan belum menyentuh inti (pemeliharaan situs warisan). Diharapkan kritik keras ini menjadi cambuk bagi instansi terkait untuk menempatkan pemeliharaan cagar budaya pada prioritas tertinggi, demi menjaga marwah adat dan martabat Kabupaten Banggai Laut di mata tamu domestik maupun nasional. (Wendy Wardana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *