banner 728x250

Rupiah Melemah, Tembus Rp17.400 per Dolar AS

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, CARDINALNews.co.id – (5/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan dan menembus level Rp17.400 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan tekanan serius yang tengah dihadapi mata uang domestik di tengah dinamika ekonomi global yang belum stabil.

Berdasarkan data pergerakan kurs terbaru, tren pelemahan rupiah telah berlangsung sejak April dan berlanjut hingga awal Mei 2026.

Pergerakan grafik menunjukkan depresiasi bertahap yang kini mencapai titik terendah dalam beberapa waktu terakhir.
Sejumlah faktor eksternal menjadi pemicu utama.

Ketidakpastian ekonomi global, lonjakan harga minyak dunia, serta kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh bank sentral Amerika Serikat memperkuat posisi dolar AS. Dampaknya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.

Baca Juga:  Kabar Gembira! Banggai Laut Segera Miliki Gudang BULOG Sendiri ‎

Dari sisi domestik, tekanan diperparah oleh menurunnya surplus neraca perdagangan serta meningkatnya arus keluar modal asing (capital outflow).

Investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Akademisi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) menilai pelemahan rupiah dalam jangka pendek masih dalam batas wajar.

Namun demikian, kondisi ini tidak boleh diabaikan karena berpotensi memicu tekanan lanjutan terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi nasional.

Baca Juga:  Ketua DPRD Balut, Patwan Kuba, Bersama Komisi II Monitoring Pekerjaan Fisik APBD 2025

“Jika tekanan eksternal terus berlanjut tanpa diimbangi penguatan fundamental domestik, maka risiko terhadap stabilitas makroekonomi akan semakin besar,” ujar salah satu akademisi FEB UGM.

Pemerintah bersama otoritas moneter, termasuk Bank Indonesia, diharapkan segera mengambil langkah strategis dan terukur.

Intervensi di pasar valuta asing, penguatan cadangan devisa, serta kebijakan moneter yang adaptif dinilai menjadi kunci untuk meredam volatilitas nilai tukar.

Selain itu, penguatan sektor riil dan peningkatan kepercayaan investor juga menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung. (FTT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *