Ikan kecil yang menyimpan cerita besar. Dari perairan Banggai hingga dapur masyarakat pesisir, Sosodek menjadi bagian dari ingatan tentang gotong royong, perjuangan, dan kecintaan kepada tanah air. Kini, dari Desa Mbeleang, ingatan itu kembali dihidupkan agar tidak hilang ditelan zaman.
CARDINALNews.co.id – (30/08/2026). Tidak banyak orang menyangka, seekor ikan kecil yang berenang bergerombol di perairan Banggai pernah menjadi bagian dari sebuah cerita besar tentang perjalanan bangsa.
Namanya Sosodek.
Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya ikan kecil yang hidup di perairan pesisir. Tetapi bagi masyarakat Banggai, Sosodek menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada ukuran tubuhnya.
Ia adalah bagian dari kehidupan.
Ia adalah bagian dari tradisi.
Dan dalam ingatan masyarakat, ia juga menjadi bagian dari kisah bagaimana rakyat pesisir memberikan apa yang mereka miliki untuk mendukung para pejuang bangsa.
Bukan dengan kemewahan.
Bukan dengan harta berlimpah.
Melainkan dengan hasil laut dan sepiring kuah asam.
Di situlah kisah ini menjadi menarik.
Sebab sejarah tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar, gedung pemerintahan, atau medan pertempuran.
Kadang sejarah justru tumbuh dari dapur rumah rakyat.
Dari tangan nelayan.
Dari hasil laut.
Dan dari ketulusan orang-orang sederhana yang memilih memberikan apa yang mereka punya.
Namun puluhan tahun berlalu, cerita tersebut perlahan terancam menjadi sekadar ingatan.
Generasi berganti.
Tradisi berubah.
Zaman bergerak.
Lalu muncul sebuah pertanyaan yang tidak sederhana:
Berapa banyak sejarah rakyat yang telah hilang hanya karena tidak sempat dituliskan dan diwariskan?
Kini, Desa Mbeleang, Kecamatan Bangkurung, mencoba menjawab pertanyaan itu dengan sebuah gerakan sederhana: menolak lupa.
—
Sepiring Kuah Asam dan Jejak Para Pejuang
Tahun 1962 menjadi salah satu periode penting dalam sejarah perjuangan Indonesia mempertahankan Irian Barat.
Dalam rangkaian Operasi Mandala, mobilisasi pasukan dan armada dilakukan di kawasan Indonesia timur.
Perairan Banggai pun berada dalam ruang strategis perjalanan tersebut.
Di tengah situasi itu, masyarakat pesisir Banggai menyaksikan kehadiran para prajurit yang sedang menjalankan tugas negara.
Masyarakat tidak memiliki banyak sumber daya.
Namun mereka memiliki laut.
Mereka memiliki nelayan.
Dan mereka memiliki semangat gotong royong.
Ikan Sosodek yang ditangkap dari laut kemudian diolah menjadi makanan.
Dari dapur-dapur masyarakat, ikan tersebut dimasak dengan bumbu yang sederhana—asam, kunyit, serai, kemangi, cabai dan berbagai rempah yang tersedia.
Jadilah kuah asam Sosodek.
Sederhana.
Tetapi penuh makna.
Bagi masyarakat, mungkin makanan itu adalah bagian dari keseharian.
Namun bagi prajurit yang sedang menjalankan tugas dalam suasana perjuangan, makanan yang datang dari tangan rakyat memiliki arti yang jauh lebih dalam.
Ada dukungan di dalamnya.
Ada persaudaraan.
Ada doa.
Dan ada pesan bahwa para pejuang tidak berdiri sendirian.
Rakyat ada di belakang mereka.
Mungkin tidak ada panggung.
Tidak ada upacara.
Tidak ada penghargaan.
Tetapi ada ketulusan.
Dan sering kali, justru ketulusan orang-orang kecil itulah yang luput dari catatan sejarah.
—
Mbeleang Memilih untuk Tidak Lupa
Hari ini, puluhan tahun setelah masa itu berlalu, nama Sosodek kembali dibicarakan.
Bukan karena nostalgia semata.
Tetapi karena ada kekhawatiran bahwa cerita yang pernah hidup di tengah masyarakat tersebut perlahan akan menghilang.
Desa Mbeleang mencoba menghentikan proses itu.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Mbeleang, Rukman Kairupan, upaya menghidupkan kembali sejarah dan tradisi Sosodek mulai digalakkan.
Bagi Rukman, warisan tersebut tidak cukup hanya diceritakan oleh generasi tua.
Ia harus diperkenalkan kepada anak-anak muda.
Tradisi penangkapan ikan yang ramah lingkungan perlu dijaga.
Kuliner kuah asam Sosodek perlu diperkenalkan kembali.
Dan nilai gotong royong yang melekat pada kehidupan masyarakat pesisir harus terus diwariskan.
Sebab ketika sebuah generasi tidak lagi mengenal warisan leluhurnya, yang hilang bukan hanya sebuah tradisi.
Yang hilang adalah bagian dari identitas.
Karena itu, upaya Mbeleang sesungguhnya bukan sekadar menghidupkan sebuah nama.
Mereka sedang mencoba menghidupkan kembali sebuah ingatan.
—
Dari Desa Kecil, Muncul Asa Festival Sosodek
Dari gerakan tersebut, lahir sebuah harapan yang lebih besar.
Festival Sosodek.
Bukan sekadar festival makanan.
Bukan pula sekadar kegiatan seremonial.
Festival Sosodek diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan sejarah, budaya maritim, kuliner, lingkungan, pariwisata, pendidikan, dan ekonomi masyarakat.
Bayangkan jika suatu hari anak-anak Banggai Laut dapat datang ke sebuah festival dan mengenal Sosodek bukan hanya sebagai ikan.
Mereka dapat mengetahui kisahnya.
Mendengar cerita para orang tua dan tokoh masyarakat.
Mencicipi kuah asamnya.
Menyaksikan tradisi masyarakat pesisir.
Dan memahami bahwa di balik ikan kecil itu terdapat cerita tentang kebersamaan dan pengabdian rakyat.
Di titik itulah pelestarian budaya berubah menjadi investasi masa depan.
—
Pemerintah Daerah Diharapkan Tidak Membiarkan Mbeleang Berjalan Sendiri
Namun cita-cita tersebut tentu tidak mungkin dibebankan hanya kepada masyarakat dan pemerintah desa.
Diperlukan kolaborasi yang lebih luas.
Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai Laut, khususnya sektor pariwisata dan kebudayaan, memiliki ruang penting untuk ikut mendorong gagasan tersebut.
Bukan sekadar hadir ketika festival digelar.
Tetapi ikut membantu sejak proses pendokumentasian sejarah, penelitian, penguatan budaya, promosi, hingga penyusunan konsep kegiatan yang berkelanjutan.
Jika memang Sosodek memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Banggai Laut, maka warisan tersebut layak mendapatkan perhatian serius.
Sebab kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena masyarakat masih mengingatnya.
Kebudayaan membutuhkan ruang untuk hidup.
Ia membutuhkan generasi penerus.
Ia membutuhkan dokumentasi.
Dan dalam konteks pembangunan daerah, ia membutuhkan kebijakan yang memberikan kesempatan agar potensi tersebut berkembang.
—
Labotan Sosodek: Jangan Sampai Tinggal Nama
Sosodek sendiri telah mendapatkan tempat dalam ruang publik Kabupaten Banggai Laut melalui nama Gedung Labotan Sosodek.
Nama itu menyimpan filosofi tentang kebersamaan.
Sosodek hidup bergerombol.
Bergerak bersama.
Menciptakan kesatuan.
Filosofi tersebut memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Banggai yang mengenal semangat kebersamaan dan gotong royong sebagai bagian dari kehidupan sosial.
Masyarakat berkumpul ketika musim Sosodek tiba.
Berbagi ruang.
Berbagi cerita.
Berbagi hasil.
Dan bersama-sama menikmati apa yang diberikan laut.
Karena itu, Labotan Sosodek semestinya bukan hanya sebuah nama.
Ia dapat menjadi pengingat bahwa Banggai Laut memiliki sejarah dan identitas yang patut dijaga.
Sebab nama tanpa cerita pada akhirnya hanya akan menjadi tulisan.
Sementara cerita yang diwariskan akan menjadi identitas.
—
Menjaga Sosodek Berarti Menjaga Laut
Ada satu hal lain yang tidak boleh dipisahkan dari upaya menghidupkan kembali Sosodek: kelestarian laut.
Jika Sosodek ingin dijadikan simbol budaya, maka habitatnya juga harus dijaga.
Modernisasi, tekanan terhadap sumber daya laut, dan aktivitas manusia yang tidak memperhatikan keberlanjutan dapat mengancam ekosistem.
Karena itu, pelestarian Sosodek tidak boleh berhenti pada festival.
Tradisi penangkapan ikan harus tetap memperhatikan lingkungan.
Masyarakat perlu mendapatkan edukasi mengenai keberlanjutan.
Dan laut harus dipandang bukan hanya sebagai sumber ekonomi hari ini, tetapi sebagai warisan untuk generasi yang belum lahir.
Tidak ada gunanya kita menyelamatkan cerita tentang Sosodek jika kita membiarkan laut tempatnya hidup kehilangan masa depan.
—
Sosodek Memang Kecil, Tetapi Ceritanya Besar
Pada akhirnya, Sosodek bukan hanya tentang ikan.
Ia adalah tentang manusia.
Tentang rakyat sederhana yang pernah memberikan apa yang mereka punya.
Tentang nelayan yang bekerja bersama.
Tentang masyarakat yang membuka dapurnya bagi para pejuang.
Tentang gotong royong.
Tentang identitas.
Dan tentang sebuah pesan yang masih relevan hingga hari ini:
Kekuatan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar.
Kadang ia lahir dari kebersamaan orang-orang kecil.
Dari tangan masyarakat biasa.
Dari hasil laut.
Bahkan dari sepiring kuah asam.
Kini Pemdes Mbeleang mencoba menghidupkan kembali cerita tersebut.
Bukan untuk terjebak dalam romantisme masa lalu.
Melainkan untuk memastikan bahwa generasi hari ini masih memiliki sesuatu yang dapat diceritakan kepada anak cucunya kelak.
Tentang siapa mereka.
Dari mana mereka berasal.
Bagaimana leluhur mereka hidup.
Dan bagaimana masyarakat Banggai pernah mengambil bagian dalam perjalanan sejarah bangsa.
Mungkin suatu hari nanti, seorang anak Banggai Laut akan bertanya kepada orang tuanya:
“Mengapa Sosodek begitu penting?”
Dan jawabannya bukan sekadar bahwa Sosodek adalah nama ikan.
Melainkan:
”Karena di balik ikan kecil itu ada cerita tentang rakyat yang pernah berdiri bersama para pejuang.”
”Ada cerita tentang gotong royong.”
”Ada cerita tentang laut yang menjadi sumber kehidupan.”
”Dan ada cerita tentang kita.”
—
CATATAN REDAKSI
Redaksi memandang upaya menghidupkan kembali Sosodek dari Desa Mbeleang sebagai lebih dari sekadar agenda budaya.
Ini adalah kesempatan untuk menyelamatkan ingatan sebelum ia benar-benar hilang.
Masyarakat Mbeleang telah membuka jalan.
Kini diperlukan keberanian semua pihak untuk berjalan bersama.
Pemerintah daerah, pemerintah desa, tokoh masyarakat, pelaku budaya, generasi muda, dunia pendidikan, pelaku pariwisata, dan masyarakat pesisir dapat mengambil peran masing-masing.
Sebab sejarah bukan hanya milik masa lalu.
Sejarah adalah bekal untuk menentukan siapa kita di masa depan.
Jangan biarkan Sosodek hanya menjadi nama sebuah gedung.
Jangan biarkan kuah asamnya hanya menjadi kenangan di meja makan.
Dan jangan biarkan kisah ketulusan masyarakat pesisir hilang tanpa jejak.
Jika dahulu masyarakat memberikan apa yang mereka punya untuk para pejuang, maka hari ini generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk memberikan sesuatu kepada masa depan:
ingatan yang terjaga, laut yang lestari, budaya yang hidup, dan identitas yang tidak kehilangan akar.
Dari Mbeleang, asa itu kembali menyala.
Sosodek mungkin kecil di lautan.
Tetapi cerita yang dibawanya terlalu besar untuk dibiarkan mati.
Goresan Pena : Wendy Wardana
