Sketsa Historis
BANGGAI LAUT,
28 Agustus 2026
FIKTOR T. TOLIU
CARDINALNews.co.id – Kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia merupakan ingatan kolektif yang menghubungkan generasi, membentuk identitas, sekaligus menjadi penanda perjalanan suatu masyarakat.
Dalam konteks Banggai Bersaudara, jejak kebudayaan tersebut dapat ditelusuri melalui berbagai peninggalan sejarah dan tradisi adat yang hingga kini masih hidup. Di antara warisan tersebut, terdapat Keraton Banggai dan tradisi Malabot Tumbe, dua unsur budaya yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah, adat, persaudaraan, serta identitas masyarakat Banggai.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banggai Laut memiliki peran penting dalam menjaga, melestarikan, sekaligus memperkenalkan kekhasan budaya tersebut kepada masyarakat luas.
Di bawah kepemimpinan Laode Kaimudin, S.E., Disparbud Kabupaten Banggai Laut tidak hanya berhadapan dengan agenda pengembangan sektor pariwisata, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga identitas sejarah dan kebudayaan daerah.
Dalam bidang kebudayaan, Muhamad Syarif Asgar A. Uda’a, S.H., selaku Kepala Bidang Pengembangan Seni dan Budaya Disparbud Kabupaten Banggai Laut, yang juga merupakan Sekretaris Tomundo Batumondoan Banggai, memiliki posisi strategis dalam memberikan informasi dan edukasi mengenai sejarah, adat, serta nilai-nilai kebudayaan Banggai.
Hal tersebut menjadi penting karena istilah Banggai Bersaudara tidak semata-mata menggambarkan hubungan sosial antarmasyarakat, tetapi juga merefleksikan keterkaitan sejarah dan kebudayaan antara Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Banggai Laut.
Secara administratif, ketiganya kini merupakan daerah otonom yang berdiri sejajar di Provinsi Sulawesi Tengah. Namun dalam perspektif sejarah dan kebudayaan, terdapat hubungan kekerabatan dan akar budaya yang saling berkaitan.
Salah satu bagian penting dari ingatan sejarah tersebut adalah jejak Kerajaan atau Kesultanan Banggai, termasuk pemerintahan, adat, serta tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
MALABOT TUMBE, SIMBOL PERSAUDARAAN BANGGAI
Salah satu tradisi yang menggambarkan kuatnya hubungan sejarah dan kebudayaan tersebut adalah Malabot Tumbe.
Malabot Tumbe merupakan tradisi adat pengantaran telur pertama burung Maleo dari masyarakat adat Batui kepada Tomundo atau Raja Banggai di wilayah Keraton Banggai, Kabupaten Banggai Laut.
Dalam prosesi tersebut, telur burung Maleo dikumpulkan oleh perangkat adat di Batui. Selanjutnya, telur diantar melalui jalur laut menggunakan perahu tradisional menuju wilayah Keraton Banggai.
Perjalanan tersebut tidak sekadar memindahkan telur dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Di balik prosesi itu terdapat pesan sejarah mengenai hubungan antara masyarakat Batui dengan lingkungan Kerajaan Banggai. Karena itu, Malabot Tumbe tidak semestinya dipahami hanya sebagai sebuah kegiatan seremonial.
Di dalamnya terkandung nilai penghormatan, persaudaraan, hubungan sejarah, kepatuhan terhadap adat, serta penghormatan terhadap amanah leluhur.
Bagi masyarakat adat, keberlangsungan Malabot Tumbe merupakan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga warisan yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Tradisi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa hubungan kebudayaan dapat melampaui batas-batas administratif pemerintahan.
Di sisi lain, Malabot Tumbe juga memperlihatkan eratnya hubungan antara kebudayaan dan lingkungan hidup.
Burung Maleo merupakan salah satu satwa endemik Sulawesi yang memiliki nilai ekologis sekaligus nilai budaya. Oleh karena itu, keberlangsungan tradisi perlu berjalan seiring dengan kesadaran untuk menjaga habitat serta kelestarian burung Maleo.
Dengan demikian, menjaga Malabot Tumbe bukan hanya mempertahankan prosesi adat, tetapi juga menjaga lingkungan yang menjadi bagian penting dari keberlangsungan tradisi tersebut.
KERATON BANGGAI, JEJAK SEJARAH DAN IDENTITAS BUDAYA
Keraton Banggai merupakan salah satu peninggalan sejarah yang memiliki nilai penting dalam perjalanan kebudayaan Banggai.
Keberadaannya menjadi pengingat terhadap perjalanan pemerintahan, adat, dan kehidupan masyarakat Banggai pada masa lampau.
Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Keraton Banggai merupakan simbol identitas budaya yang masih memiliki tempat penting dalam ingatan masyarakat.
Karena itu, pelestarian Keraton Banggai tidak semestinya hanya berorientasi pada keberadaan fisik bangunan.
Nilai sejarah, adat istiadat, tradisi, cerita leluhur, benda-benda peninggalan, serta kehidupan sosial masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan keraton merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu dirawat, didokumentasikan, diteliti, dan diperkenalkan.
Berbagai upaya dapat dilakukan melalui festival budaya, kegiatan adat, pameran sejarah, dokumentasi, penelitian, publikasi, maupun program edukasi kebudayaan.
Festival budaya dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali tradisi, kesenian, sejarah, kuliner tradisional, serta berbagai bentuk kearifan lokal Banggai kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Dengan demikian, peninggalan sejarah tidak berhenti sebagai objek yang hanya dilihat, tetapi dapat menjadi ruang pembelajaran mengenai identitas dan perjalanan masyarakat Banggai.
BUDAYA SEBAGAI KEKUATAN PARIWISATA
Pengembangan pariwisata berbasis budaya memiliki peluang besar bagi Kabupaten Banggai Laut.
Keraton Banggai, tradisi Malabot Tumbe, serta berbagai adat dan kearifan lokal lainnya dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata sejarah dan budaya.
Namun, pengembangan tersebut membutuhkan kehati-hatian agar kepentingan pariwisata tidak menghilangkan nilai asli yang terkandung dalam suatu tradisi.
Kepala Bidang Destinasi Wisata, Noldi W. Musa, S.Sos., M.Si., menekankan pentingnya sinergitas dalam pengelolaan destinasi wisata dengan memperhatikan psikologi sosial, adat, budaya, corak kultur, serta kearifan lokal masyarakat.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab bersama dalam menghormati dan menjaga amanah leluhur.
Pengembangan destinasi berbasis budaya perlu tetap menempatkan eksistensi dan pelestarian sebagai tujuan utama.
Nilai sakral, norma adat, serta makna filosofis suatu tradisi harus tetap dijaga agar tidak mengalami pergeseran hanya karena kepentingan komersial maupun pariwisata.
Dengan pendekatan yang tepat, kebudayaan justru dapat menjadi kekuatan pembangunan.
Tradisi tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sumber pengetahuan, ruang edukasi, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat tanpa menghilangkan nilai dan makna aslinya.
GENERASI MUDA DAN KEBERLANJUTAN WARISAN LELUHUR
Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan Banggai.
Pengetahuan mengenai sejarah kerajaan, adat istiadat, tradisi leluhur, serta hubungan sejarah antara Banggai, Banggai Kepulauan, dan Banggai Laut perlu terus diperkenalkan melalui pendidikan, kegiatan kebudayaan, festival, dokumentasi, maupun ruang-ruang publik.
Pelestarian budaya juga membutuhkan dokumentasi yang baik.
Cerita lisan, sejarah lokal, prosesi adat, peninggalan benda budaya, hingga pengetahuan para tokoh adat perlu dihimpun dan didokumentasikan agar tidak hilang seiring perubahan zaman.
Sebab, salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian budaya bukan hanya kerusakan benda atau bangunan bersejarah, melainkan juga hilangnya pengetahuan mengenai makna yang berada di balik peninggalan tersebut.
Keraton Banggai dengan demikian tidak hanya menjadi tempat yang menyimpan sejarah masa lalu, tetapi juga dapat berfungsi sebagai sumber pengetahuan dan identitas bagi generasi masa kini dan masa mendatang.
MENJAGA IDENTITAS BANGGAI BERSAUDARA
Pada akhirnya, pelestarian Keraton Banggai dan tradisi Malabot Tumbe bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah maupun perangkat adat.
Ia merupakan tanggung jawab bersama masyarakat Banggai Bersaudara untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup, dikenal, dipahami, dan dihormati.
Keraton menyimpan jejak sejarah.
Malabot Tumbe menyimpan pesan persaudaraan.
Adat dan tradisi menyimpan pengetahuan tentang hubungan manusia, lingkungan, dan kehidupan sosial.
Ketiganya merupakan bagian dari mata rantai kebudayaan yang tidak seharusnya terputus oleh perubahan zaman.
Sebab, ketika sejarah dan tradisi mampu dipertahankan, yang sesungguhnya dijaga bukan hanya peninggalan masa lalu.
Yang dijaga adalah identitas, jati diri, serta ingatan kolektif masyarakat Banggai, agar tetap hidup di tengah perubahan zaman dan menjadi pijakan bagi generasi yang akan datang.
Warisan budaya bukan sekadar sesuatu yang ditinggalkan oleh leluhur untuk dikenang, melainkan amanah yang diteruskan oleh generasi hari ini kepada generasi berikutnya.
Versi ini sudah dibuat lebih mengalir sebagai artikel sketsa historis, bukan sekadar berita kegiatan.

















