BANGGAI LAUT, CARDINALNews.co.id — (04/09/2026). Di tengah kekayaan laut Kabupaten Banggai Laut yang belum seluruhnya terungkap, keberadaan ikan Sosodek di perairan Desa Mbeleang, Kecamatan Bangkurung, mulai mendapat perhatian.
Ikan yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Sosodek ini bukan sekadar hasil tangkapan laut. Cerita mengenai siklus perkembangbiakannya yang disebut-sebut berlangsung pada waktu atau musim tertentu di perairan Bangkurung memunculkan pertanyaan penting: sejauh mana ikan Sosodek telah diteliti, didokumentasikan, dan dilindungi sebagai bagian dari kekayaan alam Banggai Laut?
Pertanyaan tersebut mulai mendapat perhatian Pemerintah Desa Mbeleang.
Kepala Desa Mbeleang, Kecamatan Bangkurung, Rukman Kairupan, Jumat (4/9/2026), menyambangi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banggai Laut untuk melakukan koordinasi terkait upaya pelestarian ikan Sosodek.
Kedatangannya disambut Kepala Bidang Budaya Disparbud Banggai Laut, Syarif A. Uda’a, bersama salah satu perwakilan Bidang Destinasi, Dewi.
Dalam pertemuan itu, Rukman mengangkat keberadaan ikan Sosodek yang menurut cerita dan pengetahuan masyarakat setempat memiliki siklus perkembangbiakan yang unik. Pada periode tertentu, ikan tersebut disebut bertelur di kawasan perairan Kecamatan Bangkurung, khususnya sekitar wilayah Desa Mbeleang.
Jika informasi tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah, fenomena itu tentu memiliki nilai penting, bukan hanya bagi Desa Mbeleang, tetapi juga bagi Kabupaten Banggai Laut.
Sebab, sebuah spesies yang memiliki lokasi pemijahan atau perkembangbiakan tertentu membutuhkan perhatian terhadap kondisi habitatnya. Perubahan lingkungan, aktivitas penangkapan, maupun gangguan terhadap kawasan pemijahan berpotensi memengaruhi keberlangsungan populasinya.
Dari Cerita Masyarakat Menuju Pembuktian Ilmiah
Selama ini, pengetahuan mengenai ikan Sosodek lebih banyak hidup dalam cerita dan pengetahuan masyarakat lokal.
Di sinilah persoalan sekaligus peluangnya.
Apakah Sosodek benar merupakan spesies endemik Banggai Laut? Di mana lokasi pasti pemijahannya? Pada bulan apa ikan tersebut bertelur? Berapa jumlah populasinya? Apakah kawasan pemijahannya masih aman dari aktivitas penangkapan? Dan bagaimana status konservasinya?
Sejumlah pertanyaan tersebut membutuhkan kajian lebih lanjut dari instansi teknis, akademisi maupun peneliti perikanan.
Pemerintah Desa Mbeleang berharap keberadaan Sosodek tidak berhenti sebagai cerita turun-temurun. Rukman mendorong agar ikan tersebut diteliti, didokumentasikan dan dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan budaya sekaligus potensi wisata bahari daerah.
Ia bahkan mengusulkan agar ke depan dapat digelar Festival Sosodek di Desa Mbeleang.
Festival tersebut diharapkan bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi momentum untuk memperkenalkan sejarah dan pengetahuan lokal masyarakat mengenai Sosodek sekaligus kampanye perlindungan habitatnya.
Berpotensi Menjadi Ikon Bangkurung
Menurut Rukman, keunikan Sosodek memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi ikon Desa Mbeleang dan Kecamatan Bangkurung.
Jika konsep tersebut dapat diwujudkan, Festival Sosodek dapat menggabungkan unsur budaya, edukasi lingkungan, tradisi masyarakat pesisir dan wisata bahari.
Namun, sebelum sampai pada tahap festival, ada pekerjaan penting yang tidak boleh dilewati: memastikan terlebih dahulu fakta biologis ikan Sosodek dan kondisi habitatnya.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banggai Laut melalui Bidang Budaya dan Bidang Destinasi merespons positif gagasan tersebut.
Syarif A. Uda’a dan perwakilan Bidang Destinasi, Dewi, menilai cerita historis serta keunikan Sosodek merupakan potensi yang menarik untuk digali lebih jauh.
Terlebih, jika benar terdapat fenomena perkembangbiakan musiman yang secara konsisten berlangsung di kawasan perairan Bangkurung, informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk mendorong penelitian dan upaya pelestarian yang lebih terarah.
Jangan Sampai Ikonnya Hilang Sebelum Diteliti
Gagasan menjadikan Sosodek sebagai ikon budaya dan wisata tentu menarik. Namun, ada satu hal yang lebih mendasar: jangan sampai ikan yang hendak dijadikan ikon justru kehilangan habitatnya.
Karena itu, langkah berikutnya bukan hanya membuat festival, tetapi memastikan adanya pendataan dan kajian mengenai spesies tersebut.
Pemerintah daerah bersama pemerintah desa, masyarakat adat, nelayan, akademisi dan instansi teknis dapat mulai menjawab berbagai pertanyaan yang selama ini belum terdokumentasikan secara memadai.
Mulai dari identifikasi jenis ikan, pola migrasi, musim pemijahan, lokasi bertelur, kondisi habitat hingga potensi ancaman terhadap populasinya.
Apabila seluruh informasi tersebut berhasil dibuktikan dan didokumentasikan, Sosodek bukan lagi sekadar cerita masyarakat pesisir.
Ia bisa menjadi bukti bahwa laut Banggai Laut masih menyimpan kekayaan hayati dan budaya yang belum sepenuhnya terungkap.
Dan dari perairan Desa Mbeleang, sebuah gagasan kini mulai didorong: menyelamatkan Sosodek sebelum menjadikannya ikon.
(FTT)

















